Kamis, 12 Juli 2012

TEHNIK BUDIDAYA BELUT DALAM TONG / DRUM.




 
TEHNIK BUDIDAYA BELUT DALAM TONG / DRUM.
Lahan sempit atau pekarangan rumah yang sempit sering menjadi kendala untuk menjalankan sebuah usaha, namun seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di sektor perikanan, peternakan dan perkebunan , kondisi ini sudah bukan menjadi kendala.
Usaha peternakan yang dapat dilakukan dilahan sempit adalah Budidaya belut. Mengapa kita dapat membudidayakan belut dilahan sempit , karena kita akan menggunakan media drum atau tong dari besi atau plastik.
A.    PERLENGKAPAN , yang dibutuhkan untuk budidaya adalah sebagai berikut :
a.     Tong / drum , disarankan dari bahan plastik, supaya tidak berkarat.
b.     Paralon.
c.      Kawat kasa.
d.     Tandon penampungan air.
e.     Ember , serok , cangkul , baskom dan jerigen dll.
 
B.     PERSIAPAN DAN TEHNIK BUDIDAYA.
Sebelum kita menjalankan budidaya belut dalam drum / tong , dibutuhkan media pemeliharaan sebagai tempat belut berkembang biak atau membesar, media pemeliharaan ini sangat penting mengingat keberhasilan budidaya yang kita lakukan sangat bergantung pada media pemeliharaan ini. Untuk media pembesaran hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
 
1.     Drum / Tong.
Tong  yang digunakan sebaiknya tdk bocor dan berkarat , jika menggunakan drum / tong dari besi yang berkarat sebaiknya dibersihkan dahulu dari karat dan lakukan pengecatan ulang dan diamkan sampai kering dan tidak berbau cat lagi.
Cara merakit Drum / tong :
a.     Letakkan tong pada posisi mendatar , agar media menjadi lebih luas.
b.     Buka bagian tengah drum / tong , sisakan 5 cm pada sisi kanan dan kiri.
c.      Pasanglah alat / ganjal supaya drum / tong tidak menggelinding , atau bergerak .
d.     Buat saluran pembuangan dibawah tong , letak dapat disesuaikan dengan penampungan limbah pembuangan.
e.     Buat peneduh, sehingga intensitas panas matahari tidak terlalu tinggi dan terkena langsung ke permukaan drum / tong, bahan bisa dibuat dengan memasang shading net / waring atau bisa juga dengan bahan yang murah dan mudah didapat lainnya.
 
2.     Media Tanah.
Tanah yang digunakan sebaiknya tanah yang tidak berpasir , tidak terlalu liat serta masih memiliki kandungan hara , disarankan untuk menggunakan media tanah dari sawah. Untuk melakukan pematangan media tanah tahapan yang dilakukan yaitu :
a.     Masukkan tanah kedalam drum / tong hingga ketinggian 30 – 40 cm.
b.     Masukkan air hingga tanah becek namun tidak menggenang.
c.      Masukkan EM 4 sebanyak 4 botol kedalam tong.
d.     Aduk tanah sebanyak 2 kali sehari hingga tanah lembut dan gembur.
Perlakuan tahapan diatas tidak berlaku , apabila menggunakan tanah dari sawah.
 
3.     Media Instan Bokashi.
Media instan ini dibuat diluar drum/tong yang merupakan campuran bahan utama dan bahan campuran . Penggunaan 100 kg bahan akan menghasilkan 90 kg media instan bokashi. Setiap drum / tong ukuran 200 liter dibutuhkan 45 kg bokashi.
Bahan utama terdiri atas :
a.     Jerami Padi (40 %).
b.     Pupuk Kandang (30 %).
c.      Bekatul (20%).
d.     Potongan batang pisang (10% ).
Bahan campuran terdiri atas :
a.     EM4.
b.     Air sumur.
c.      Larutan 250 gram gula pasir untuk menghasilkan 1 liter larutan (molases).
 
Cara membuat Media Instan Bokashi:
a.     Cacah jerami dan potongan batang pisang kemudian keringkan. Tanda bahan sudah kering adalah hancur ketika digenggam.
b.     Campuran cacahan bahan diatas dengan bahan pokok lain dan aduk hingga merata.
c.      Campurkan bahan campuran sedikit demi sedikit tapi tidak terlalu basah.
d.     Tutup media dengan karung goni atau terpal selama  4 – 7 hari . bolak balik campuran agar tidak membusuk.
 
4.     Mencampur Media point 1 dan 2.
a.     Masukkan media instan kedalam tong dan aduk hingga merata.
b.     Massukkan air kedalam  drum/tong  hingga ketinngian 5 cm dan diamkan hingga terdapat plankton  dan cacing ( sekitar 1 minggu) selama proses ini berlangsung drum/tong tidak perlu ditutup.
c.      Keluarkan air dari drum/ tong dan ganti dengan air baru dengan ketinggian yang sama.
d.     Massukkan tumbuhan air yang tidak terlalu besar sebanyak ¾ bagian dan ikan ikan kecil..
e.     Masukkan vetsin secukupnya sebagai perangsang nafsu makan belut dan diamkan selama 2 hari.
Yang perlu diperhatikan ketinggian seluruh media , kecuali tumbuhan air tidak lebih dari 50 cm.
 
5.     Masukkan bibit belut.
Setelah semua media budidaya tersebut siap tahapan selanjutnya menebarkan bibit belut. Bibit yang ditebar sebaiknya sebanyak 2 kg dengan jumlah bibit sebesar 80 – 100 ekor per kg.
C.     PERAWATAN.
Perawatan belut didalam tong drum / tong relative lebih mudah karena pemantauan budidaya relative kecil, namun demikian perawatan tetap harus diperhatikan, antara lain:
1.     Pemberian Pakan.
Tidak ada aturan baku volume pemberian pakan, namun sebaiknya pakan diberikan 5% dari jumlah bibit yang ditebarkan. Pakan yang sebaiknya diberikan yaiyu cacing, kecebong , ikan ikan kecil , dan cacahan keong mas atau bekicot. Pemberian pakan diberikan pada hari ke 3 setelah bibit ditebar dalam drum/ tong. Pemberian pakandilakukan pada sore hari seperti kebiasaan belut dialam yang makan disore / malam hari.
2.     Pengaturan Air.
Pengaturan air sangat diperlukan untuk membuang sisa makanan agar tidak menumpuk dan menimbulkan bibit penyakit. Pengaturan air ini dengan cara mengalirkan air bersih kedalam drum/tong , sebaiknya air yang masuk berupa percikan air untuk melakukan ini digunakan pipa paralon sebagai media aliran. Sedangkan untuk saluran pembuangan dengan membuat lubang pada drum /tong dengan ketinggian 8 cm dari genangan air di media. Selain sebagai pengatur pembuangan sisa kotoran percikan air ini juga berfungsi sebagai penambah oksigen.
3.     Perawatan Tanaman Air.
Tanaman air ini digunakan sebagai penjaga kelembaban tempat budidaya dan juga menjaga belut dari kepanasan.
4.     Pemberian EM4.
EM4 berfungsi sebagai penetralisir sisa sisa pakan, selain itu juga berfungsi untuk mengurangi bau. EM4 diberikan2-3 kali sehari dengan dosis ½ sendok makan dilarutkan dalam 1 liter air.
5.     Perawatan Sekitar Lokasi.
Perawatan sekitar lokasi ini untuk menjaga tong dari tanaman liar , lumut , dan hama maupun predator pemangsa seperti ayam.
 
D.    PEMANENAN.
Pemanenan dilakukan setelah 3 – 4 bulan budidaya dilakukan atau sesuai dengan keinginan kita dan keinginan (permintaan) pasar . Pemanenan untuk media drum / tong tentunya lebih mudah , dan belut hasil budidaya siap dipasarkan.
Untuk menunjang bududaya belut yang berkelanjutan sebaiknya juga dipersiapkan bagaiman supply makanan yakni cacing , keong mas , bekicot dan lainnya. Selain itu juga diperhatikan bagaimana kelangsungan bibit setelah panen untuk budidaya berikutnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Berita Terbaru

Loading...

Recent Posts

Featured

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Web Hosting